September 25, 2013

cerbung: Dariku untuk Negeri

hello readers semua, sehat kan?
gimana dengan cerbung dariku untuk negerinya? maaf ya kalo ada typo ataupun ceritanya kurang menyenangkan :D
ini lanjutannya sekaligus endingnya ya reads, happy reading~

Dariku Untuk Negeri~

Aku melihat mata ka Li, ia sangat percaya diri, Olivia yang kemudian menyusul di belakangku kemudian berbisik “ka Li sangat menginginkanmu, dia akan melatihmu, dan kau akan lebih hebat darinya, percayalah!” “hey, mana mungkin?” ucapku, Olivia duduk di bangku penonton dan beberapa saat kemudian ka Li memanggilku dan mengajakku bermain, awalnya entah kenapa aku merasa sangat gugup, mungkin karena ini pertama kalinya aku melawan seorang juara dunia badminton, tapi kemudian aku merasakan kepercaya-dirianku dan aku melawan ka Li dengan sekuat tenaga, semampuku.
“kamu luar biasa, aku yakin kamu orangnya, izinkan aku menjadi pelatihmu” ka Li terdengar seperti memohon, “ka Li, seharusnya aku yang bilang izinkan aku untuk menjasi muridmu” ka Li kemudian hanya tersenyum.
Setelah aku pulang ke kost-anku aku bergegas mengemasi barang yang akan kubawa pulang, kebetulan kuliahku libur selama seminggu dan ayah baru saja pulang, setelah pulang ke rumah aku menceritakan semuanya pada ayah dan ibuku tentang keinginanku untuk menjadi seorang pemain bulu tangkis, namun yang membuatku terkejut adalah, saat ayah menolak keinginanku dan bilang “kau mau jadi atlet? Untuk apa? Apa Negara akan menjamin hidupmu nanti saat kau pension?” ayah terdengar mambentak “tapi yah, aku ingin bermain untuk negaraku, aku ingin membuat semua masyarakat Indonesia bangga dan mengharumkan nama Indonesia ayah” sahutku, “pokoknya ayah tidak akan pernah setuju!”
Ayahpun pergi dan terlihat sangat marah padaku, ibu hanya memberikan senyum untuk menyemangatiku, nada telpon terdengar dari tas kecilku dan aku melihat di layar hp, “ka Li, untuk apa dia menelponku?” setelah aku angkat ka Li bertanya kesiapanku untuk Uber and Thomas cup 5 bulan lagi” aku pun bilang padanya kalau ayahku tak mengizinkanku, rupanya ka Li sudah mendaftarkan namaku ke ajang bergengsi itu, ka Li bilang hanya tunggu pihak dari Menpora men-survey kami.
lalu apa yang harus ku lakukan? Di satu sisi aku merasa sangat tidak ingin ka Li kecewa, tapi di sisi lain aku tak mungkin mengekang ayah.
Esoknya setelah bangun tidur dan membantu ibuku merapikan rumah, aku mendengar suara ketukan pintu dari depan rumah, kemudian aku buka pintu itu dan yang membuatku benar-benar terkejut adalah ka Li ternyata yang berada di depan pintu rumahku, ya Tuhan, aku tak pernah menyangka ka Li bisa datang ke rumahku dan dia bilang dia ingin bicara pada ayahku, kemudian ka Li menjelaskan semua, dan ayahpun menengok ke arahku kemudian menatap tajam mataku dan menganggukkan kepalanya, itu artinya dia setuju dengan pernyataan ka Li barusan.
Ka Li pun terlihat bahagia, namun dari semuanya, akulah yang paling bahagia, aku memeluk ayahku, ibu, ka Li, dan temanku Olivia, Thanks God, Tuhan memberi semua yang terbaik untukku.
Tibalah saatnya aku mulai kembali ke Jakarta, melanjutkan kuliahku dan berlatih bulu tangkis dengan ka Li, aku berlatih sangat keras dan aku senang sekali, akhirnya mimpiku bertahun tahun yang lalu akan segera terwujud.
5 bulan telah berlalu, ka Li bilang kemampuanku berkembang pesat, aku senang mendengarnya. Hari ini pihak Menpora akan men-survey kami, aku sebagai pemain dan ka Li sebagai Coach-ku, dan setelah pihak  Menpora melihat kemampuanku, mereka menyetujui aku bermain di piala Uber dan Thomas, akhirnya selangkah lagi mimpiku terwujud.
Tibalah saatnya aku mengikuti piala Uber dan Thomas, kali ini di selenggarakan di China, aku terbang ke China bersama Timku dan ka Li yang selalu menyertaiku, ka Li memberiku dukungan dan memotivasiku, awalnya perasaan ragu itu kembali ada di benakku, tapi aku tak akan mengecewakan semua yang telah mendukungku, aku pasti bisa.
Setelah melewati babak penyisihan, kini saatnya semi final, ada 2 tim yang nantinya akan melawan tim China yang lebih dulu bertengger di puncak klasemen sementara, tim kami Indonesia dan tim Denmark, aku mendapat kepercayaan di babak ini, aku melawan Sameen Aury dan Tuhan memberiku kekuatan hingga aku berhasil menekuk Sameen Aury di babak semi final ini, Denmark kalah telak 17-21 dan 25-27, huuuuuuuh, rasanya menyenangkan sekali bisa membawa Indonesia sejauh ini, tapi masih ada tanggungan untukku di babak penentuan yaitu babak final.
Saat aku tau bahwa timku mempercayaiku untuk melawan Suan Xung Lai juara dunia bulu tangkis sekarang, sungguh jantungku berdegub amat kencang dan aku tak percaya, mentalku sepertinya tiba-tiba down dan aku merasa takut, saat aku dengar bunyi telpon dari ponselku dan Oliv mengangkatnya, karena aku dilarang berkomunikasi melalui apapun, kemudian Oliv berbisik padaku dan berkata “Ayah dan Ibumu, mereka bilang mereka bangga, mereka menontonmu di tv sekarang, orangtuamu, saudara-saudaramu, tetanggamu dan seluruh masyarakat Indonesia melihatmu sekarang, mereka bilang kau pasti bisa! Buat Indonesia bangga, seperti cita-citamu dulu,ayooo Fa.. kamu bisa” aku meneguk air di dalam botol kemudian aku mengingat kata-kata Olivia tadi, semangatku kembali tumbuh dan aku yakin aku pasti bisa membabat habis semuanya, juara dunia sekalipun.
Kini tiba saatnya babak final, di babak pertama aku kalah telak oleh sang juara dunia 15-21, tiba-tiba rasa semangatku kembali down, setelah itu aku melihat ekspresi ka Li, Olivia, dan teman satu timku, kemudian aku ingat, banyak orang yang masih mengharapkan kemenangan untuk INDONESIA, aku tak boleh mengecewakan mereka, seluruh pendukungku.
Tiba tiba aku melihat layar yang berada di sekitar lapangan dan di situ aku melihat diriku yang berjuang mati-matian saat melawan Sameen Aury dan diriku yang mengenakan seragam kebesaran INDONESIA dengan gambar GARUDA dan bendera Merah-Putih di dadaku, semangat itu muncul dan menyambukku, dan di babak ke 2 aku menekuk Suan Xung Lai dengan skor 21-19.
Kali ini aku menang, tapi itu artinya ada babak ke 3 menunggu, rasanya staminaku mulai turun dan aku tak kuasa menahan rasa lelah. Aku mulai tak yakin lagi, aku duduk dan ka Li menghampiriku, dia berkata, “kalau kau sudah tak sanggup, jangan paksakan dirimu, masih ada tahun depan dan Djarum Open” ucapan ka Li tiba-tiba membuat aku mengingat masa-masaku dulu, saat aku berjanji pada Ayah dan Ibu untuk membuat mereka bahagia, saat aku berjanji untuk mengharumkan nama Indonesia dan saat ka Li memperjuangkan semuanya demi izin dari Ayahku, aku ingat itu dan air mataku menetes, perlahan mengalir dan aku tak rela bila sang GARUDA di permalukan oleh sang PANDA, aku tak akan rela.
Saatnya babak terakhir dimulai, ini menentukan hidup dan mati kami, sorak sorai suara pendukung tim negeri bamboo itu membuat aku kehilangan sedikit kepercaya dirianku, dan aku tertinggal 11-6, itu angka yang sangat jauh, tapi aku sudah berjanji pada Indonesia, aku kembali tertinggal 17-15, sorak sorai supporter tim lawan tampaknya mambuat Suan Xung Lai semakin bersemangat dan aku kembali tertinggal di angka 21-20, nampaknya Lai sudah lelah dan tak nyaman dengan teriakan penonton dan ini saatnya aku memekuknya, yaaaa akhirnya nilai kami imbang 21-21 dan aku terus berdoa pada Allah, dan akhirnya dengan sekuat tenaga aku kembalikan kemenangan ku dengan nilai 23-21.
INDONESIA keluar sebagai pemenang piala Uber dan Thomas tahun ini, dan Aku Naufa Lidia Chan keluar sebagai pemain terbaik dunia tahun ini juga, aku tak menyangka di awal karierku sebagai pemain bulu tangkis aku langsung di gelari juara dunia, dan semua rakyat Indonesia bangga kepadaku, aku menciumi Thropy perdanaku ini untuk Indonesia dan menciumi bendera kesayanganku dan seragam kebesaranku, aku lihat dari podium juara pertama, disana ada Olivia, temanku yang selalu mendukungku dan ka Li yang selalu melatihku tanpa kenal lelah dan rekan-rekan timku yang menyemangatiku.
Ayah dan ibu kembali menelpon dan aku bicara pada mereka, mereka bilang mereka bangga padaku dan aku dengar suara saudara-saudaraku bersorak sorai menyebut namaku dari kejauhan sana.
End~


Kritik dan saran sangat diharapkan guna kebaikan di waktu mendatang, terima kasih J