Agustus 17, 2013

cerbung: Dariku untuk Negeri

hai readers, pas banget ya mumpung suasananya sedang memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, aku mau share lanjutan kisahnya nih.. happy reading yaa~
***
Kini aku sudah naik ke kelas XI dan aku ditinggalkan oleh kakak-kakak kelasku yang sangat baik, semoga mereka bisa meraih cita-cita yang mereka idamkan dan bisa sukses !! doaku selalu menyertai kalian semua, namun kini aku juga senang karena aku punya adik kelas, kebetulan aku menjadi seksi bidang di organisasi siswa intra sekolah, dan saat ada Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD) aku menjadi panitia disana, tetap saja, mereka yang baru datang di kehidupanku belum bisa menggantikan mereka yang baru saja pergi dari hidupku.
Setiap pulang sekolah aku membantu ibu berjualn di toko kecilnya, mungkin hanya sekedar menunggui, tapi aku senang bisa membantu ibu, terkadang sambil menunggui toko aku menulis puisi atau sekedar menulis cerpen, aku memang pernah memimpikan untuk menjadi seorang sastrawan, tapi kurasa itu bukan bidangku, aku memang pintar menyanyi, dan juga pintar berbicara, atau apakah aku akan menjadi seorang politikus? Kurasa tidak itu terlalu berat, aku ingin menjadi apapun asal aku menghasilkan uang yang hala, bisa membuat orang tuaku bahagia dan juga membuat negeraku bangga terhadapku.
Suatu hari saat pulang sekolah, ibu mengajakku pergi ke bank untuk mengambil uang kiriman dari ayah, sebuah televise berlayar tipis menempel di sisi dinding bank, saat itu aku melihat pertandingan bulu tangkis di salah satu stasiun televise, pertandingan Indonesia open 2013, aku melihat sesosok perempuan yang kemudianaku tahu namanya Liliana Natsir, dia adalah juara dunia bulu tangkis dan aku sangat kagum melihat talentanya, aku ingin suatu hari nanti bisa membanggakan Indonesia seperti Liliana Natsir dan mempersembahkan Thropy kejuaraan untuk Indonesia-ku, *itu di bidang apapun.
Tidak terasa kini aku sudah kelas XII, awal naik kelas XII seperti biasa ada acara prakerin, atau panjangnya kita sebut Praktek Kerja Industri, aku di tempatkan di Kantor Pos, rasanya aku seperti bekerja sungguhan. Aku menikmati sekali prakerinku, bersama temanku Amelia Siregar yang keturunan batak-Tionghoa, Amel adalah salah satu teman dekatku, seringkali aku mengajaknya curhat, namun lupakan saja.
Sejak kejadian saat aku melihat pertandingan Indonesia Open 2013 entah mengapa aku sangat ingin menjadi atlet bulu tangkis, dulu aku pernah hobby main bulu tangkis, tapi tidak lagi sekarang. Aku juga diam-diam kembali menggemari bulu tangkis dan meng-idolakan Liliana Natsir, dia sungguh sangat mengagumkan.
Kini aku sudah lulus dengan nilai baik dan di wisuda, ayah dan ibu, kini aku sudah membuktikannya, selangkah lagi aku akan jadi orang.
Aku kuliah di Universitas Indonesia sekarang, disana aku menemukan teman-teman baru dan tidak sedikit artis yang kuliah disana, namun aku menemukan seorang teman baru yang bernama Olivia Natasia, dia seorang model dan cover girl di majalah remaja di Jakarta, suatu hari Olivia mengajakku untuk main ke rumahnya dan aku sangat tidak menyangka disana aku bertemu dengan sesosok wanita paruh baya sedang duduk di meja berbentuk lingkaran dan terlihat segelas sirup segar sedang diminumnya, saat aku tidak sengaja menjatuhkan buku yang ada di tanganku, perlahan sosok perempuan itu menoleh dan menatap ke arahku, aku lihat ekspresinya sangat tenang, dan tidak kusangka dia adalah Liliana Natsir, wajahnya terlihat berbeda dengan wajahnya 7 tahun yang lalu, dia tampak lebih tua, namun aku lihat masih ada secercah semangat di matanya.

saat aku bertanya apakah setelah dia mengalami cedera dia masih bermain bulu tangkis, dia menjawab “ya aku masih main bulu tangkis”, aku menyautinya lagi “tapi kenapa aku tak pernah melihatmu di tv?” Liliana bilang “sekarang aku main untuk diriku sendiri, saatnya bagi generasi muda untuk tampil dan menunjukkan bakatnya”, namun tiba-tiba dari arah belakang Olivia datang dan menyambung pembicaraan kami, “ka Li, dia jago bulu tangkis, dia ikut lomba antar kampus dan menang, mungkin kau bisa melatihnya dan mempersembahkannya untuk Negara ini” “eh kamu ini apa-apaan? Aku tidak sehebat ka Li” ka Li hanya tersenyum kemudian berkata “besok kamu pergi ke tempat dimana biasanya aku latihan bulu tangkis, aku tunggu kamu disana jam 2 siang, jangan terlambat!” kemudian ka Li memberikanku sobekan kertas yang bertuliskan Jalan Cipta Agung 57 Jakarta, dan Olivia bilang kalau itu alamat dimana ka Li biasa latihan bulu tangkis dan dia juga bilang bahwa ka Li ingin aku jadi pemain bulu tangkis.
“hey Liv, aku tidak mungkin main bulu tangkis, aku mau focus pada kuliahku” dengan pandangan meyakinkan oliv berkata padaku “ka Li belum pernah melakukan ini sekalipun pada aku atau orang lain, ini kesempatan emas bagi kamu, jadi apalagi yang kamu pikirkan? Bukankah ini hobimu dan mimpimu?” “tapi…” “bukankah kau juga ingin membuat INDONESIA bangga padamu Fa?” sambung Oliv.
“eeeemmmm…… aku tidak yakin aku bisa liv” namun Oliv terus berusaha meyakinkanku.
Esok harinya tapat pukul 2 siang aku pergi ke tempat dimana biasanya ka Liliana latihan, disana ka Liliana sedang unjuk kebolehannya, dan ternyata dia telah menungguku sejak lama, “maaf ka Li, apa kamu sudah lama menungguku?” tanyaku, “tidak, hanya sedikit latihan tadi, akupun baru sampai” ujar ka Liliana, “untuk apa ka Li menyuruhku datang kemari?” sambungku, “aku tau, ditanganmu INDONESIA bisa bangkit, kau harus lebih baik dari aku dan teman-temanku” “apa kak Li yakin?” tanyaku “ya sangat yakin !!” 
ceritanya masih panjang, jadi nanti lain waktu di share lagi ya readers :)
will be continue yaa~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar