Selamat
datang readers tersayang.. saya ingin mempublikasikan cerpen saya yang mungkin
readers butuh waktu yg lama untuk membacanya (lebih mirip novel). Ini adalah
cerpen pertama yang saya karang walaupun baru tapi semoga ceritanya bisa
menjadi inspirasi untuk semuanya.
~
~
Aku
adalah seorang pemimpi, memimpikan cita-citaku, angan-anganku, imajinasiku…
semua hidupku, aku memimpikan hidup yang bahagia bersama orang-orang yang aku
sayangi
Aku
Naufa Lidia Chan, anak gadis berusia 15 tahun yang baru masuk kelas X Sekolah
menengah Ekonomi Atas tahun ini, aku merasa sangat beruntung bisa lulus SMP
dengan nilai yang memuaskan, dengan nem 30 itu cukup bagus untukku dan aku
bersyukur karena itu hasil dari pemikiranku sendiri, di sekolah baruku, aku
menemukan banyak orang-orang baru juga yang belum terlalu aku kenal dengan
akrab, aku senang bisa masuk ke sekolah ini, bisa dikatakan sekolahku sekarang
adalah sekolah favorit dan peraturan di sekolahku jelas sangat ketat.
Aku
ingin bercerita sedikit tentang keluargaku, aku Naufa Lidia Chan, kelahiran
Tegal, 27 November 1997 ayahku memberi nama ‘Chan’ di belakang namaku bukan
karena kami keturunan Tionghoa, aku bahkan adalah keturunan jawa ASLI 100%
CINTA BUDAYA JAWA, ayahku memberi nama ‘Chan’ dibelakang namaku karena ayahku
sangat menyukai Jacky Chan, actor china yang telah membintangi berbagai judul
film, yang rata-rata filmnya ber-genre “action” ayahku bernama Agung Susanto,
Ia bekerja di negeri tetangga dan hanya pulang setahun sekali saja saat
lebaran, aku rindu saat ayah masih di rumah dan berada dekat denganku, tapi
ayah bilang ia bekerja untuk menyekolahkanku supaya aku dapat meraih
cita-citaku..
Ibuku
bernama Mahila Santika, ibu membuka took kecil di rumah dan ia juga seorang
penjahit, ibu adalah orang yang sangat berarti bagiku, ia selalu menyayangiku
dengan sepenuh hatinya.. adikku bernama Nathan Chan, lagi-lagi karena ayahku
sangat menyukai Jacky Chan dan film-film actionnya..
Kalau
aku mengingat ayah, aku selalu berpikir, kenapa ayah harus bekerja di Negara
tetangga? Kenapa tidak di negeri sendiri, entahlah, apa ayahku ini sangat tidak
berguna di negerinya sendiri? Kadang aku merasa tidak adil, namun aku
benar-benar mencintai Negaraku ini, dan akan aku buktikan suatu saat nanti
kalau aku bisa mengharumkan nama INDONESIA di mata Dunia.
Seperti
biasa saat para muadzin mengumandangkan suara Adzan di Masjid, seakan ada suara
malaikat yang berbisik lembut di telingaku dan membangunkanku untuk segera
salat Subuh memenuhi seruan Illahi, aku lihat di kamarnya ibu masih tertidur
pulas, tak tega rasanya untuk membangunkn ibu, aku rasa ibu sangat lelah dan
butuh istirahat, tapi salat itu sudah menjadi kewajiban setiap umat muslim
sehingga aku harus tetap membangunkannya
“bu”
aku memanggilnya dengan hati-hati karena takut ibu bangun dengan kaget
“ibu, ini sudah pukul setengah 5 bu, waktunya untuk salat subuh” aku berbisik di telinganya lagi
ibu membuka matanya perlahan, kemudian bangun dan memberiku senyuman pertama di pagi hari ini, rasanya benar-benar membuat hatiku sejuk, ibu menatapku dengan mata sayu dan berkata “apakah kamu sudah mengambil air wudhu?”
kemudian aku mengarahkan tatapan mataku padanya dan menganggukkan kepala
ibu kembali berkata “ya sudah, kamu tunggu ibu di bilik dulu, ibu segera menyusul”
kali ini aku menjawab pada ibu, “ya bu”
“ibu, ini sudah pukul setengah 5 bu, waktunya untuk salat subuh” aku berbisik di telinganya lagi
ibu membuka matanya perlahan, kemudian bangun dan memberiku senyuman pertama di pagi hari ini, rasanya benar-benar membuat hatiku sejuk, ibu menatapku dengan mata sayu dan berkata “apakah kamu sudah mengambil air wudhu?”
kemudian aku mengarahkan tatapan mataku padanya dan menganggukkan kepala
ibu kembali berkata “ya sudah, kamu tunggu ibu di bilik dulu, ibu segera menyusul”
kali ini aku menjawab pada ibu, “ya bu”
Aku
bersiap ke sekloah, semua perlengkapan sekolahku sudah ada di tas ranselku dan
seusai sarapan aku bergegas lari ke halte dan menunggu bus untuk pergi ke
sekolah.
lagi-lagi ibu mengingatkanku tentang kacamata, ya sejak masuk SMK aku memang mengenakan kacamata karena aku terkena Rabun Jauh ataun yang biasa disebut minus, menyebalkan memang kalau setiap hari harus bergantung pada benda ini, namun apa boleh dikata? Aku tidak bisa apa-apa tanpa kacamata ini.
lagi-lagi ibu mengingatkanku tentang kacamata, ya sejak masuk SMK aku memang mengenakan kacamata karena aku terkena Rabun Jauh ataun yang biasa disebut minus, menyebalkan memang kalau setiap hari harus bergantung pada benda ini, namun apa boleh dikata? Aku tidak bisa apa-apa tanpa kacamata ini.
Dengan
guru-guru, teman-teman dan kakak-kakak kelas yang baik padaku, aku menikmati
sekolahku, karena aku masih kelas X jadi sudah pasti kegiatanku sangat padat
dan mungkin akan lebih padat saat aku kelas XII nanti.
Setelah
hampir 12 bulan aku sekolah di sekolah ini, akhirnya sudah tiba masa-masa
kenaikan kelas dan setelah melewati UKK yang setiap hari membuatku pusing,
huuuuuh pagi ini ibu bersiap mengambil raportku namun aku melihat ekspresi
wajah ibu sedikit cemberut, akupun mencoba bertanya pada ibu kenapa ia terlihat
sedih? Ibu menjawab pertnyaanku “ibu sedang tidak punya uang, dan uang untuk
membayar daftar ulangmu ini ibu pinjam dari teman ibu”, aku tahu, karena aku
ibu dan ayah meminjam uang sangat banyak pada teman-temannya dalam hatiku, aku
ingin segera menyelesaikan sekolahku, kemudian bekerja untuk membantu ibu,
namun setiap aku mengatakan itu pada ayah dan ibu, ayahku kemudian menegurku
dan berkata “tugasmu itu hanya sekolah, belajar dengan baik agar bisa mencapai
cita-citamu dan baru kamu bisa membuat kami bangga”
Aku
tau bagaimana perasaan ayah dan ibu, saat seperti ini, jika aku mengingat
mereka aku makin merasa bersalah, dan kadang merasa menjadi orang yang
merepotkan “AYAH, IBU, AKU BERJANJI AKAN BUAT KALIAN BANGGA DAN SENYUM KARENA
PRESTASIKU” dalam hatiku selalu mengucapkan itu agar aku termotivasi.
keren, saya tunggu lanjutanya.
BalasHapustengok juga tegebesatu.blogspot.com