Agustus 11, 2013

cerbung: Dariku untuk Negeri


Selamat datang readers tersayang.. saya ingin mempublikasikan cerpen saya yang mungkin readers butuh waktu yg lama untuk membacanya (lebih mirip novel). Ini adalah cerpen pertama yang saya karang walaupun baru tapi semoga ceritanya bisa menjadi inspirasi untuk semuanya.
~
Aku adalah seorang pemimpi, memimpikan cita-citaku, angan-anganku, imajinasiku… semua hidupku, aku memimpikan hidup yang bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi
Aku Naufa Lidia Chan, anak gadis berusia 15 tahun yang baru masuk kelas X Sekolah menengah Ekonomi Atas tahun ini, aku merasa sangat beruntung bisa lulus SMP dengan nilai yang memuaskan, dengan nem 30 itu cukup bagus untukku dan aku bersyukur karena itu hasil dari pemikiranku sendiri, di sekolah baruku, aku menemukan banyak orang-orang baru juga yang belum terlalu aku kenal dengan akrab, aku senang bisa masuk ke sekolah ini, bisa dikatakan sekolahku sekarang adalah sekolah favorit dan peraturan di sekolahku jelas sangat ketat.
Aku ingin bercerita sedikit tentang keluargaku, aku Naufa Lidia Chan, kelahiran Tegal, 27 November 1997 ayahku memberi nama ‘Chan’ di belakang namaku bukan karena kami keturunan Tionghoa, aku bahkan adalah keturunan jawa ASLI 100% CINTA BUDAYA JAWA, ayahku memberi nama ‘Chan’ dibelakang namaku karena ayahku sangat menyukai Jacky Chan, actor china yang telah membintangi berbagai judul film, yang rata-rata filmnya ber-genre “action” ayahku bernama Agung Susanto, Ia bekerja di negeri tetangga dan hanya pulang setahun sekali saja saat lebaran, aku rindu saat ayah masih di rumah dan berada dekat denganku, tapi ayah bilang ia bekerja untuk menyekolahkanku supaya aku dapat meraih cita-citaku..
Ibuku bernama Mahila Santika, ibu membuka took kecil di rumah dan ia juga seorang penjahit, ibu adalah orang yang sangat berarti bagiku, ia selalu menyayangiku dengan sepenuh hatinya.. adikku bernama Nathan Chan, lagi-lagi karena ayahku sangat menyukai Jacky Chan dan film-film actionnya..
Kalau aku mengingat ayah, aku selalu berpikir, kenapa ayah harus bekerja di Negara tetangga? Kenapa tidak di negeri sendiri, entahlah, apa ayahku ini sangat tidak berguna di negerinya sendiri? Kadang aku merasa tidak adil, namun aku benar-benar mencintai Negaraku ini, dan akan aku buktikan suatu saat nanti kalau aku bisa mengharumkan nama INDONESIA di mata Dunia.
Seperti biasa saat para muadzin mengumandangkan suara Adzan di Masjid, seakan ada suara malaikat yang berbisik lembut di telingaku dan membangunkanku untuk segera salat Subuh memenuhi seruan Illahi, aku lihat di kamarnya ibu masih tertidur pulas, tak tega rasanya untuk membangunkn ibu, aku rasa ibu sangat lelah dan butuh istirahat, tapi salat itu sudah menjadi kewajiban setiap umat muslim sehingga aku harus tetap membangunkannya
“bu” aku memanggilnya dengan hati-hati karena takut ibu bangun dengan kaget
“ibu, ini sudah pukul setengah 5 bu, waktunya untuk salat subuh” aku berbisik di telinganya lagi
ibu membuka matanya perlahan, kemudian bangun dan memberiku senyuman pertama di pagi hari ini, rasanya benar-benar membuat hatiku sejuk, ibu menatapku dengan mata sayu dan berkata “apakah kamu sudah mengambil air wudhu?”
kemudian aku mengarahkan tatapan mataku padanya dan menganggukkan kepala
ibu kembali berkata “ya sudah, kamu tunggu ibu di bilik dulu, ibu segera menyusul”
kali ini aku menjawab pada ibu, “ya bu”
Aku bersiap ke sekloah, semua perlengkapan sekolahku sudah ada di tas ranselku dan seusai sarapan aku bergegas lari ke halte dan menunggu bus untuk pergi ke sekolah.
lagi-lagi ibu mengingatkanku tentang kacamata, ya sejak masuk SMK aku memang mengenakan kacamata karena aku terkena Rabun Jauh ataun yang biasa disebut minus, menyebalkan memang kalau setiap hari harus bergantung pada benda ini, namun apa boleh dikata? Aku tidak bisa apa-apa tanpa kacamata ini.
Dengan guru-guru, teman-teman dan kakak-kakak kelas yang baik padaku, aku menikmati sekolahku, karena aku masih kelas X jadi sudah pasti kegiatanku sangat padat dan mungkin akan lebih padat saat aku kelas XII nanti.
Setelah hampir 12 bulan aku sekolah di sekolah ini, akhirnya sudah tiba masa-masa kenaikan kelas dan setelah melewati UKK yang setiap hari membuatku pusing, huuuuuh pagi ini ibu bersiap mengambil raportku namun aku melihat ekspresi wajah ibu sedikit cemberut, akupun mencoba bertanya pada ibu kenapa ia terlihat sedih? Ibu menjawab pertnyaanku “ibu sedang tidak punya uang, dan uang untuk membayar daftar ulangmu ini ibu pinjam dari teman ibu”, aku tahu, karena aku ibu dan ayah meminjam uang sangat banyak pada teman-temannya dalam hatiku, aku ingin segera menyelesaikan sekolahku, kemudian bekerja untuk membantu ibu, namun setiap aku mengatakan itu pada ayah dan ibu, ayahku kemudian menegurku dan berkata “tugasmu itu hanya sekolah, belajar dengan baik agar bisa mencapai cita-citamu dan baru kamu bisa membuat kami bangga”
Aku tau bagaimana perasaan ayah dan ibu, saat seperti ini, jika aku mengingat mereka aku makin merasa bersalah, dan kadang merasa menjadi orang yang merepotkan “AYAH, IBU, AKU BERJANJI AKAN BUAT KALIAN BANGGA DAN SENYUM KARENA PRESTASIKU” dalam hatiku selalu mengucapkan itu agar aku termotivasi.

~ Will be continue guys ^^

1 komentar: